The Girl from the Coast (untranslated)
Gadis Pantai merupakan novel karya Pramoedya Ananta Toer yang tidak selesai karena sejatinya, novel ini merupakan trilogi. Karena vandalisme oleh Angkatan Darat, kedua buku lanjutan dimusnahkan. Berkat salah satu pihak Universitas Nasional Australia, Savitri P. Scherer, lewat dokumentasinya pada saat mengambil tesis seputar proses kepengarangan Pramoedya, teks novel dikirimkan kepada sang pengarang dan dikoreksi oleh Arina Ananta Toer. Buku ini, seperti bukunya yang lain, terutama Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, pernah dilarang di Indonesia karena dianggap berisi ajaran komunisme. Buku ini bertema penyesuaian seorang gadis desa dengan kehidupan priayi. Selain itu, buku berisi sindiran terhadap feodalisme Jawa serta penggambaran feodalisme tersebut sebagai tidak beradab dan berjiwa. Walaupun tema kurang relevan dengan masa kini, pengarang dapat memperlihatkan kehidupan kebangsaan yang mewah dari sisi lain sehingga pembaca menyadari kekurangannya. Selain itu, pengangkatan klasisme dalam cerita menyadari pembaca terhadap klasisme yang masih terjadi di masa kini antara orang kota dan orang desa.
Buku ini berkisah tentang seorang gadis dari kampung nelayan bernama Gadis Pantai yang dinikahkan dengan seorang pembesar disebut Bendoro. Dengan pernikahan ini, ia terpaksa untuk menetap di istana Bendoro dan membiasakan diri dengan gaya hidup priayi. Di sana, ia ditemani oleh seorang bujang tua. Sayangnya, hal ini tidak berlangsung lama karena bujang tua tersebut dipecat. Ia kemudian digantikan oleh Mardinah, seorang janda muda dari kota yang ternyata tidak bersikap sepantasnya terhadap Gadis Pantai. Karena merupakan kerabat Bendoro, Gadis Pantai tidak berani mengadukan sikap Mardinah sehingga ia terpaksa ditemani oleh gadis kota tersebut saat menjenguk kampungnya. Di sana, didapatkan bahwa Mardinah diutuskan untuk membunuh Gadis Pantai agar Bendoro dapat segera menikah dengan bangsawan. Sebagai hukuman, ia dinikahkan dengan Dul, seorang pendongeng, dan Gadis Pantai pulang ke istana dengan sendiri. Ia jalani kehidupannya sehari-hari hingga ia mengandung dan melahirkan, dan akhirnya diceraikan dan harus pulang. Karena terlalu malu, ia mengutuskan untuk berputar ke Blora.
Penulis dapat mengambil perhatian pembaca sepenuhnya lewat metode penceritaan yang sangat menarik. Penggambaran latarnya sangat terperinci. Hal tersebut dapat dilihat lewat deskripsi mengenai berbagai perabot dan ruangan seperti berikut:
Mereka mendaki lantai, memasuki ruang belakang yang begitu besar, empat kali lebih besar dari seluruh rumah mereka. Sebuah meja setinggi 40 cm berdiri di tengah-tengah ruang. Mereka melaluinya, kemudian masuk ke dalam ruangan yang panjang. Saking panjangnya ruangan itu sehingga Nampak seakan sempit. Beberapa kursi berdiri di dalamnya dan sebuah sofa yang merapat ke dinding. Di penghujung ruangan terdapat kamar dengan pintu yang terbuka lebar. [...]
Dengan tangannya yang kasar ia raba-raba taplak meja yang sepanjang tepinya dihias dengan hurud Arab. Taoge-taoge pendek, cincin-cincin, dan berabgai macam titik dan garis lekuk.
Selain itu, penggambaran juga terkesan cukup nyata sehingga pembaca mendapatkan gambaran mengenai kehidupan sehari-hari di masa Hindia Belanda lewat buku ini. Contohnya ialah sebagai berikut:
Dipanggilnya dua orang bujang wantia untuk meenruskan pekerjaannya: menyabuni lantai. Tak kurang dari dua jam ia mengawasi bujang-bujang itu bekerja sampai kamar-kamar ruang tengah bersih dan kering seluruhnya.
Dan dokar sewaan berjalan tenang mengangguk-angguk di jalan pos uatan tuan besar Guntur alias Daendels. Kua kacang yang menarik dokatar sarat muatan nampak seperti sedang berjingkrak kepanasan. Sedang semak-semak bakau sepanjang pantai namak begitu hijau dan sunyi. Bau tembakau yang keluar dari keranjang bergumul melawan bau laut yang abadi.
Terdapat juga penggunaan majas seperti asosiasi yang menarik dalam narasi untuk menggambarkan dan menciptakan suasana secara jelas dan menambahkan keindahan cerita. Contohnya ialah sebagai berikut:
Tubuh yang kecil mungil itu meriut seperti keong, ketakutan.[...]
Setengah jam telah berlalu. Bapak telah bermandi keringat. Menumbuk jagung 40 pikul tidaklah seberat ini, emak berkata dalam hati. Gadis pantai meriut di kursinya seperti tikus habis kecebur dalam air gula.
Ia merasa masih telanjang bulat dalam pakaian seringan itu – ia yang sering merajut dan mengangkat jala 20 kg.
Penokohan, walaupun lebih sering dilakukan lewat narasi, dilakukan dengan brilian. Penulis dapat menggambarkan tokoh, terutama tokoh utama, dengan sangat jelas lewat tidak hanya pikiran, tetapi juga dialog dan tindakan tokoh. Lewat ini, pembaca dapat benar-benar mengerti sifat setiap tokoh.
Walaupun ditulis dengan sangat cemerlang, beberapa deskripsi terlalu panjang sehingga memperlambat laju cerita dan membuat pembaca tidak sabar. Hal ini dapat terlihat lewat adanya pengulangan inti kejadian dalam beberapa bagian buku, terutama mendekati akhir, misalnya:
“Sahaya belum mempersembahkan anak ini kepada Bendoro. Inilah putri tuanku endoro. Putri tuanku sendiri, bukan anak orang lain.” […] “Seribu ampun, sahaya datang buat serahkan anak sahaya ini, anak sahaya sendiri, bukan anak orang lain, Bendoro. Terimalah dia Bendoro.”
Selain itu, walaupun sama sekali bukan salah sang penulis, sangat disayangkan bahwa kedua sekuel tidak dapat ditemukan dimanapun sehingga pembaca tidak dapat mengetahui kelanjutan hingga akhir cerita secara penuh. Walaupun sebagian besar penulisan sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan, masih terdapat beberapa kesalahan ejaan seperti “menghembus“ yang seharusnya ditulis sebagai “mengembus“ dan “mesjid“ yang seharusnya ditulis sebagai “masjid“. Mengenai kualitas percetakan, tidak terdapat kesalahan cetak, tetapi kertas cukup mudah terlipat dan robek sehingga pembaca harus berhati-hati dalam menangani buku.
Dari segi bahasa, buku ini menggunakan bahasa lebih rumit sehingga kurang cocok dibaca oleh anak-anak. Tema yang diangkat juga kurang sesuai untuk dibahas oleh anak-anak sehingga buku ini lebih cocok untuk direkomendasikan kepada remaja ataupun dewasa. Kekelaman suasana cerita dapat diterima dengan baik oleh orang dewasa ataupun remaja, serta topik dapat dicerna secara lebih penuh. Buku ini sangat menarik untuk mempelajari tentang kehidupan di masa Hindia Belanda serta perbedaan kelas yang lebih ketara pada masa tersebut.