By Ling

'Me' for Medicine: A Drafted Motivation Letter (untranslated)

The pursuit of knowledge is the most noble pursuit of mankind.

Seseorang yang dikaruniakan kesempatan dan kemampuan untuk mengejar ilmu tidak boleh menyia-nyiakannya, tetapi harus menggunakan potensi tersebut sebaik mungkin. Hal tersebut saya sadari saat beranjak memasuki SMA. Sejak itu, saya menghabiskan banyak waktu membaca dan mempelajari berbagai hal seperti sains, seni, sejarah, bahasa, dan filsafat. Namun, melihat keadaan masyarakat saat ini yang cukup meresahkan, saya merasa bersalah berdiam diri tidak melakukan apapun. Walaupun begitu, beberapa bentuk bantuan hanya meredakan keadaan untuk sementara waktu. Tanpa menyelesaikan akar masalah yang menyebabkan keterpurukan kondisi tersebut, keadaan dapat kembali memburuk sehingga bantuan dapat dikatakan percuma sebab tidak dapat membawa perubahan signifikan untuk menyejahterakan masyarakat. Ketidaktahuan, sebagai salah satu akar masalah, dapat ditangkali oleh akal dan pengetahuan, dua hal yang saya dapat berikan.

Saya memutuskan untuk menempuh pendidikan lebih lanjut untuk mengasah akal tersebut dan memperluas pengetahuan, tetapi di antara semua program studi yang ada, saya memilih kedokteran karena merasa ilmu tersebut paling berguna. Walaupun setiap disiplin berguna untuk memenuhi kebutuhan tingkat tertentu, semua kebutuhan tersebut gagal terpenuhi jika kebutuhan jasmani, sebagai kebutuhan primer, diabaikan. Kesehatan, sebagai salah satu kebutuhan jasmani, terpenuhi apabila keadaan tubuh dijaga atau diobati jika mengidap penyakit. Memang terdapat kebutuhan dasar lainnya seperti sandang, papan, dan pangan, tetapi hal tersebut tidak dapat diperoleh dengan maksimal jika tubuh cacat. Dengan mempelajari cara kerja tubuh dan cara mengobatinya, saya berharap ilmu yang saya peroleh dapat berguna untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar mereka dan, sebagai hasilnya, meningkatkan kesejahteraan.

Selain postulat ilmu kedokteran sebagai ilmu yang paling berguna, saya ingin mengetahui seberapa sulitnya program studi tersebut. Dengan dikenalnya kesehatan sebagai bidang dengan tingkat putus kuliah tertinggi ke-5 menurut Statistika Pendidikan Tinggi 2020 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan kedokteran sebagai program pendidikan yang cukup padat dengan berbagai ujian, tugas, dan praktikum yang harus dikerjakan, waktu kelas yang panjang, dan padatnya materi yang harus dikuasai dalam waktu singkat, saya yakin ketabahan, disiplin, dan kemampuan manajemen waktu yang baik sangat dibutuhkan.

Di masa SMA, saya belajar untuk membagi waktu dengan baik. Awalnya, saya kewalahan dengan banyaknya tugas dan ujian yang diberikan. Walaupun saya mampu mencapai peringkat 10 besar paralel, penerapan sistem kebut semalaman sangat tidak menyenangkan. Sejak itu, saya memutuskan untuk selalu mencicil tugas dan merangkum catatan sepulang sekolah, dan menentukan prioritas berdasarkan importance dan urgensi. Karena mulai percaya diri dengan kemampuan saya, saya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai pengurus OSIS, mengikuti organisasi nonprofit eksternal, mengikuti berbagai lomba dan juga seminar. Dengan kesibukan ini pun, saya masih mampu mempertahankan nilai dan peringkat saya.

Hal tersebut tidak mungkin tanpa bantuan orang tua saya. Lewat ibu saya yang telah mengajarkan pentingnya tanggung jawab dan kerja keras sejak kecil, saya dididik untuk menjalani setiap kewajiban hingga tuntas dengan memberikan hasil sebaik mungkin. Walhasil, saya dapat menyelesaikan sekolah dengan nilai yang memuaskan walaupun telah menghadapi berbagai masalah keluarga, pertemanan, dan pribadi. Dengan beranjak ke tingkat pendidikan lebih lanjut, saya harus tetap menyadari bahwa seberat apapun masalah yang akan saya hadapi, yang memilih untuk menjalaninya adalah saya sendiri sehingga yang harus menanggung beban tersebut hingga selesai adalah saya sendiri.

Selain ibu saya, ayah saya juga berjasa menafkahi keluarga dan membiayai sekolah sehingga saya mampu menyelesaikannya. Beliau tidak pernah mengeluh lelah ataupun meminta bantuan. Bahkan, saat ditawari, beliau menolak. Karena sudah selalu memberikan yang terbaik bagi saya, sebagai bentuk balasan terhadap kebaikan tersebut, saya ingin menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri yang bergengsi untuk membanggakannya.

Di antara semua perguruan tinggi negeri yang ada, terdapat beberapa alasan saya memilih perguruan tinggi di kota hiu dan buaya ini. Dengan menduduki peringkat kedua se-Indonesia menurut Quacquarelli Symonds World University Rankings 2022, saya berharap untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dengan bergabung sebagai mahasiswa di sini, dan karena pengakuan internasional ini, tidak tertutup kemungkinan memperoleh pengalaman studi internasional. Akan tetapi, sebagai universitas yang mengedepankan moralitas, saya juga berharap bahwa mahasiswa tidak akan melupakan pentingnya bersikap sportif dan adil dalam menghadapi sesama, dengan diprioritaskannya kemanusiaan dalam proses pendidikan.

#liquor-cerebri #study

#liquor-cerebri #study