Conventional Energy Sources To Decline (untranslated)
Sumber energi merupakan segala bentuk bahan yang dapat menghasilkan energi (Boechler dkk, 2021). Sumber energi dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni sumber energi konvensional dan sumber energi non-konvensional. Sumber energi konvensional atau non-renewable merupakan sumber energi yang berasal dari sumber daya alam yang dapat ditemukan dalam jumlah terbatas dan dapat habis karena prosesnya tidak berkelanjutan. Beberapa contoh sumber energi konvensional berupa batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, prediksi cadangan minyak bumi dan gas alam Indonesia merupakan 9,5 tahun dan 19,9 tahun secara berturut-turut, sedangkan cadangan batu bara diprediksi masih cukup untuk 65 tahun. Walaupun sumber daya alam tersebut dapat dijadikan andalan untuk memenuhi kebutuhan negara, diperlukan usaha untuk mencari dan mengembangkan sumber energi alternatif.
Sumber energi alternatif atau non-konvensional sendiri merupakan sumber energi yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diproses secara berkelanjutan. Beberapa contohnya berupa angin, sinar matahari, air, dan biomassa. Pemerintah dan sektor swasta telah melakukan upaya untuk mencapai 23% energi dari sumber terbarukan pada tahun 2025 dan 31% pada 2050, tetapi terlihat bahwa transisi tersebut belum berdampak besar. Meningat bahwa 87,6% dari listrik kita masih berasal dari bahan bakar fosil, penggunaan sumber energi konvensional masih cukup prevalen dalam masyarakat. Untuk itu, usaha lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengembangkan sumber energi alternatif sehingga umur cadangan sumber energi lainnya dapat dipertahankan.
Menurut Satya Hangga Yudha Widya Putra, Penasihat Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2E), Indonesia lebih mengutamakan stabilitas daripada pertumbuhan karena tidak ingin mengulangi krisis moneter 1998 yang disebabkan oleh pertumbuhan terlalu pesat. Karena itu, pemerintah lebih fokus pada produksi listrik yang murah dan stabil, walaupun itu berasal dari bahan bakar fosil. Dengan lingkungan dan kebijakan serta peraturan yang lebih memihak pada sumber energi konvensional, kurangnya regulasi mengenai harga, pengelolaan, dan pengusahaan, dan kurangnya subsidi dari pemerintah untuk pengembangan sumber energi terbarukan, tenaga listrik dari sumber energi tersebut masih sangat mahal dan sulit bersaing dengan bahan bakar fosil seperti batu bara, gas, dan minyak bumi. Karena harganya, masyarakat masih lebih cenderung menggunakan sumber energi konvensional tanpa memperhitungkan resikonya.
Diketahui bahwa bahan bakar fosil hanya terdapat dalam jumlah terbatas. Prediksi cadangan yang ada dihitung dengan asumsi bahwa produksi tetap stabil setiap tahun. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, melihat dari pola konsumsi listrik yang cenderung meningkat setiap tahunnya dari 0,91 kWh/kapita pada tahun 2015 menjadi 1,06 kWh/kapita pada tahun 2016, yang diikuti juga oleh meningkatnya produksi listrik dari 248,610 GWh menjadi 278,941 GWh pada tahun 2016 dan 2019 secara berturut-turut, mengingat juga bahwa 61% listrik Indonesia berasal dari batu bara, diragukan bahwa produksi bahan bakar fosil akan tetap. Jika cadangan tersebut habis sebelum waktunya, dikhawatirkan kemungkinan terjadinya krisis energi. Dengan ketergantungan masyarakat dan industri pada bahan bakar fosil, dikhawatirkan bahwa krisis energi dapat menyebabkan meningkatnya harga barang, terutama yang bergantung pada energi konvensional dalam produksi maupun distribusinya. Terdapat juga ancaman kehilangan pekerjaan dalam beberapa sektor industri seperti pertambangan, pembangunan, agrikultur serta sektor lainnya yang bergantung pada energi dalam jumlah besar. Untuk itu, diperlukan upaya untuk mengatasi kemungkinan krisis tersebut.
Strategi paling efektif untuk menghadapi kemungkinan tersebut ialah lewat perkembangan energi non-konvensional. Selain berperan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan, sumber energi alternatif, tidak seperti sumber energi konvensional, tidak akan habis. Seperti namanya, sumber energi ini dapat memperbaharui diri sendiri. Selain itu, tidak seperti bahan bakar fosil, sumber energi alternatif tidak memerlukan banyak tempat pemrosesan, alat berat, sambungan pipa, dan transportasi untuk dapat diolah sehingga biaya yang harus dikeluarkan di masa depan untuk pemrosesan sumber energi ini tidak akan sebesar biaya yang dibutuhkan untuk mengolah sumber energi fosil saat ini. Dengan diberdirikannya pembangkit tenaga listrik yang bersumber dari energi non-konvensional, terbuka juga lapangan kerja baru sehingga angka pengangguran dapat berkurang. Di Amerika, contohnya, pembangkit listrik bertenaga energi alternatif yang sudah ada mempekerjakan tiga kali lebih banyak orang daripada pembangkit listrik tenaga minyak bumi. Selain prediksi bahwa pekerjaan energi terbaharukan akan menjadi pekerjaan dengan perkembangan paling pesat satu dekade ke depan, pekerjaan tersebut juga menghasilkan gaji di atas rata-rata.
Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa contoh energi terbarukan dengan potensi yang cukup besar. Mengingat bahwa Indonesia merupakan banyak gunung berapi karena berada pada cincin api pasifik, Indonesia memiliki potensi 29.544 megawatt sehingga panas bumi dapat dijadikan pertimbangan untuk ke depannya. Selain itu, terdapat juga air. Di Indonesia, potensinya mencapai 94 gigawatt. Namun, yang baru dimanfaatkan baru saja 7,572 megawatt. Terdapat juga biomassa seperti kelapa sawit. Menurut Masyarakat Energi Biomassa Indonesia, potensi sumber daya pembangkit biomassa mencapai 32,6 gigawatt. Tetapi, untuk saat ini dapat dilihat bahwa pemberdayaan sumber energi alternatif masih kurang, dan masyarakat masih lebih bergantung pada sumber energi konvensional.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang besar. Namun, karena kurangnya subsidi dari pemerintah, perkembangan pembangkit listrik tenaga dari sumber energi alternatif tidak dapat berjalan dengan baik. Dengan subsidi yang cukup, beban pengoperasian dapat diringankan dan listrik dapat dijual dengan harga yang lebih rendah sehingga pembeli lebih berminat. Dengan penjualan yang meningkat, investor akan tertarik menaruh saham sehingga dapat dimanfaatkan untuk perkembangan pembangkit listrik alternatif. Selain sekedar subsidi, dibutuhkan pemerintah dengan ideologi yang mendukung energi terbarukan untuk memastikan perkembangan dapat berjalan dengan baik. Hal ini pastinya tidak dapat terjadi tanpa dukungan masyarakat sehingga dibutuhkan juga edukasi dan sosialisasi mengenai sumber energi terbarukan.
Indonesia hingga saat ini masih lebih bergantung pada sumber energi konvensional. Bahan bakar fosil terbatas, mengingat tahun cadangan beberapa bahan seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara tidak lama lagi, sehingga terdapat kemungkinan terjadinya krisis energi jika habis. Untuk menghadapi hal ini, diperlukan strategi berupa pengembangan energi alternatif. Indonesia memiliki potensi yang besar, tetapi masyrakat masih lebih cenderung menggunakan sumber energi tidak terbarukan. Pemerintah harus berupaya mendukung pengembangan sumber energi alternatif lewat pembiayaan pembangkit listrik tenaga alternatif, serta edukasi dan sosialisasi kepada masyrakat. Dibutuhkan juga pemerintah dengan ideologi yang mendukung energi terbarukan untuk memastikan perkembangan dapat berjalan.
Untuk masa depan yang cerah dan bersih, mari kita mendukung upaya pengembangan energi alternatif. Untuk masa kini, tidak banyak yang dapat kita lakukan, tetapi kita dapat mendidik diri sendiri mengenai pentingnya pengembangan energi ini, dan mencari cara untuk menghemat penggunaan energi.
Boechler, Ethan, dkk. 2021. “Primary Energy”, https://energyeducation.ca/encyclopedia/Primary_energy, diakses pada 13 Maret 2022 pukul 14.23.
Dany, Rista Rama. 2021. “Batu Bara, Melonjak di 2021 Tapi Bakal Meredup dan Tinggalkan”, https://www.idxchannel.com/economics/batu-bara-melonjak-di-2021-tapi-bakal-meredup-dan-tinggalkan, diakses pada 13 Maret 2022 pukul 14.40.
Endarwati, Oktiani. 2021. “61 Persen Sumber Listrik RI Berasal dari Pembangkit Batu Bara“, https://www.idxchannel.com/economics/61-persen-sumber-listrik-ri-berasal-dari-pembangkit-batu-bara, diakses pada 14 Maret 2022 pukul 16.03.
Hauser, Dominik. 2009. “Energy Crisis’ Impact On The Economy”, https://www.grin.com/document/159028, diakses pada 15 Maret 2022 pukul 15.16.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. 2020. “Konsumsi listrik per kapita, 2007–2020”, https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/konsumsi-listrik-per-kapita-2007-2020-1591936682, diakses pada 15 Maret 2022 pukul 14.26.
Pertamina. 2020. “Pengoptimalan Sumber Energi Alternatif Untuk Keberlangsungan Hidup Masyarakat Indonesia Di Masa Yang Akan Datang”, http://www.pertagas.pertamina.com/Portal/Content/Read/45, diakses pada 15 Maret 2022 pukul 15.52.
Perusahaan Listrik Tenaga. 2019. “Indonesia Produksi Tenaga Listrik”, https://www.ceicdata.com/id/indicator/indonesia/electricity-production, diakses pada 15 Maret 2022 pukul 14.29.
Pribadi, Agung. 2021. “Menteri ESDM: Cadangan Minyak Indonesia Tersedia untuk 9,5 Tahun dan Cadangan Gas 19,9 Tahun”, https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/menteri-esdm-cadangan-minyak-indonesia-tersedia-untuk-95-tahun-dan-cadangan-gas-199-tahun, diakses pada 13 Maret 2022 pukul 14.42.
Putra, Satya Hangga Yudha Widya. 2019. “Indonesia Masih Perlu Bahan Bakar Fosil”, https://www.antaranews.com/berita/820275/indonesia-masih-perlu-bahan-bakar-fosil, diakses pada 14 Maret 2022 pukul 15.37.
Rahman, Arif Budi. 2021. “Krisis Bahan Bakar dan Trilema Energi“, https://news.detik.com/kolom/d-5764224/krisis-bahan-bakar-dan-trilema-energi, diakses pada 14 Maret 2022 pukul 15.43.
Terapass. 2020. “Advantages and Disadvantages of Using Renewable Energy”, https://terrapass.com/blog/advantages-and-disadvantages-of-using-renewable-energy, diakses pada 14 Maret 2022 pukul 15.47.
U.S. Energy Information Administration. 2021. “Use of energy explained”, https://www.eia.gov/energyexplained/use-of-energy/industry.php, diakses pada 15 Maret 2022 pukul 15.45.
Yurika. 2021. “Potensi Besar, PLTA Masih Jadi Andalan“, https://www.dunia-energi.com/potensi-besar-plta-masih-jadi-andalan/, diakses pada 14 Maret 2022 pukul 16.01.
Zenius. 2021. “Sumber Energi Tak Terbarukan dan Terbarukan – Materi Fisika Kelas 12”, https://www.zenius.net/blog/sumber-energi-tak-terbarukan-dan-terbarukan, diakses pada 13 Maret 2022 pukul 14.35.